Kamis, 09 Februari 2012

Sinetron Anak Kaki Gunung: Orang Jujur Tidak Mungkin Jadi PNS (??…)


Sinetron anak kaki gunung memang lain dari pada yang lain. Betul-betul menggambarkan kondisi masyarakat sebagaimana adanya. Dalam sinetron ini menceritakan masyarakat desa yang jauh dari hiruk pikuk dunia luar. Masyarakat/anak-anak yang masih sangat polos, jujur dan penuh rasa persaudaraan.

Sinetron ini juga berisi kritikan sosial terhadap sistem yang ada di negeri ini. Seperti tema sinetron yang kemarin. Menceritakan tentang Pak Taufik guru SD Teladan di desa kaki gunung tersebut yang sudah puluhan tahun mengabdi, hanyalah seorang guru honorer. Sudah belasan kali ikut ujian PNS, tapi tak pernah lulus.

Dalam sinetron tersebut digambarkan bahwa pak Taufik adalah orang yang sangat jujur. Untuk menjadi guru PNS, dia tidak mau sama sekali main curang dengan “orang dalam”. Alhasil dia tidak pernah lulus, dan dalam sinetron itu disimpulkan orang jujur tidak mungkin jadi PNS.

Miris sekali. Apalagi cerita itu menggambarkan situasi di kampung saya sendiri, Sumatera Barat. Memang hal seperti itu banyak terjadi. Tapi perlu diingat, tidak semua seperti itu.

Begitu selesai nonton, saya terima sms dari seorang kawan lama, kawan sejak kecil karena rumah kami berdekatan. Isi sms nya mengatakan kalau dia merasa sedih, karena anaknya menuduh dia bisa lulus jadi guru PNS dengan cara yang tidak jujur.

Saya bisa bayangkan betapa sedihnya dia mendengar tuduhan seperti itu. Dia orang yang sangat jujur. Berasal dari keluarga yang hidupnya pas-pasan. Tidak mungkin dia melakukan hal seperti yang dituduhkan anaknya tersebut.

Cerita di sinetron itu memang menggambarkan kondisi dalam masyarakat kita, tapi tidak 100 % benar. Masih banyak PNS yang lulus karena memang pantas untuk diluluskan. Bukan lulus karena uang.
Sinetron Anak Gunung bagus, tapi jangan sampai membuat anak-anak jadi pesimis dan tidak giat meraih prestasi, karena beranggapan kalau nanti memasuki dunia kerja uanglah yang bicara, bukan prestasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar